CRYPTOGRAPHY
Sejarah Kriptografi
Sejarah panjang mengenai kriptografi dapat ditemukan dalam buku David Khan yang berjudul The Codebreakers. Didalam buku ini tertulis secara detail sejarah kriptografi mulai dari penggunaan kriptografi oleh Bangsa Mesir 4000 tahun yang lalu hingga pada abad ke-20 saat ini. Menurut sejarah ada empat kelompok yang berkontribusi terhadap perkembangan kriptografi yaitu : kalangan militer (intelejen dan mata-mata), kalangan diplomatik, penulis buku harian dan pecinta (lovers). Diantara kelompok ini, kalangan militer yang memberikan kontribusi paling penting, karena pengiriman pesan di dalam suasana perang membutuhkan teknik enkripsi dan dekripsi yang rumit.
Sejarah kriptografi sebagian besar merupakan sejarah kriptografi klasik, yaitu metode enkripsi yangmenggunakan kertas dan pensil atau dengan bantuan alat mekanik sederhana. Secara umum algoritma kriptografi klasik dikelompokkan menjadi dua yaitu cipher transposisi dan cipher subtitusi. Cipher transposisi mengubah susunan huruf-huruf di dalam pesan, sedangkan cipher subtitusi mengganti setiap huruf atau kelompok huruf dengan sebuah huruf atau kelompok huruf lain. Algoritma substitusi paling awal dan paling sederhana adalah Caesar cipher, yang digunakan oleh raja Yunani kuno, Julius Caesar.
Kriptografi modern dipicu oleh perkembangan peralatan komputer digital sehingga memungkinkan untuk menghasilkan cipher yang lebih kompleks. Tidak seperti kriptografi klasik yang mengenkripsi karakter per karakter. Kriptografi modern beroperasi pada string biner. Cipher yang kompleks seperti DES (Data Encryption Standard) dan algoritma RSA adalah algoritma kriptografi modern yang paling dikenal di dalam sejarah kriptografi modern.
Alat yang digunakan pada masa perang
Scytale

Sejarah kriptografi klasik mencatat
penggunaan cipher transposisi oleh
tentara Sparta di Yunani pada permulaan
tahun 400 SM. Mereka menggunakan
alat yang bernama Scytale, yaitu sebuah
kertas panjang dari daun papyrus yang
dililitkan pada sebuah silinder dari diameter
tertentu (diameter silinder menyatakan
kunci penyandian).
Enigma Machine

Pada masa Perang Dunia II, para kalangan
militer khususnya pada masa Pemerintahan
Nazi Jerman membuat mesin enkripsi yang
disebut sebaga Enigma. Mesin yang
menggunakan beberapa buah rotor (roda
berputar) ini melakukan enkripsi dengan
cara yang sangat rumit. Namun, Enigma
cipher berhasil dipecahkan oleh pihak sekutu.